Kamis, 18 Januari 2018

Racun Pemerintahan Sentralistis



Oleh : Eka Tresna Setiawan*

            Pertama, mari kita tayangkan ingatan kita tentang keadaan daerah-daerah yang jauh dari lokasi pemerintahan baik pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah. Jalan-jalan daerah pinggiran kabupaten atau kota berlubang merupakan contoh salah satu permasalahan yang sampai saat ini masih belum begitu terminimalisir. Secara ekonomi pun masih banyak masyarakat pinggiran yang sangat bersusah payah hanya untuk makan sehari-harinya. Fasilitas-fasilitas umum penunjang lainnya masih sangat kurang jika dibandingkan dengan fasilitas umum di wilayah yang dekat dengan kantor pemerintahan. Lebih dari itu, bukan sekedar kurang, banyak fasilitas umum seperti yang dimiliki masyarakat dekat pusat pemerintahan sama sekali tidak dimiliki oleh masyarakat pinggiran. Belum lagi permasalahan lokal lainnya yang masing-masing daerah berbeda-beda, sudah menjadi tanggungan sepihak. Dilihat dari berbagai aspek, masyarakat yang tinggal di pinggiran kabupaten atau kota kerap menjadi pihak tertinggal.

Sabtu, 06 Januari 2018

Lika-Liku Harbolnas antara Penjual dan Pembeli



“Tahu Bulat didiskon 50% untuk order via Whatsapp, 500 Rupiah dapat 2 biji”

“Cihhh.. Kenapa lama pisan atuh, Mang Juned?”, Ikin rupanya kesal dengan Mang Juned.
Sambil menodongkan layar smartphone-nya yang gede ke muka Kang Juned, Ikin menegaskan kapan dia checkout untuk orderannya. Layar hapenya dua kali lipat lebih gede dari smartphone-nya Mang Juned. Ikin emang abege hits. Tapi, kebanyakan makan micin.
Pasalnya, dengan gadget berspesifikasi secanggih itu, Ikin cuma make hapenya buat ngehits di Instagram, main ML dan nonton ML. Lho, kok? Benar, maksud ML yang pertama dia candu banget nge-game Mobile Legend. Nah yang kedua ini, gadget bagus begitu dia pakai buat nonton ML alias bokep.
Tiap pulang sekolah, Ikin selalu nongkrong di pos ronda. Di sana dia ngehits, main ML dan nonton ML bareng ketiga kawannya. Ketiganya adalah Nono, Dadang dan Didi, gak penting mereka siapa. Cuma figuran di tulisan ini. Jadi gak perlu dijelaskan lebih karena sebelas dua belas dengan Ikin.