Oleh: Eka Tresna Setiawan*
Dari masa ke masa,
keadaan bumi kian memburuk. Misalnya, ketersediaan sumber daya alam yang kian
hari kian menurun. Begitu pula dengan perubahan iklim yang kini kian menyata,
yakni global warming. Gunung-gunung es di kutub dari tahun ke tahun
mengalami pencairan terus-menerus, karena efek rumah kaca, yakni cahaya
matahari yang terpantul kembali ke angkasa oleh atap-atap bangunan yang
bersifat seperti cermin, sehingga lapisan ozon membocor. Contoh lainnya adalah
keadaan dataran Jakarta kian mengkhawatirkan, karena dataran tanah Jakarta kini
semakin menurun posisinya, sehingga kota ini terancam tenggelam. Turunnya
dataran tanah Jakarta merupakan dampak dari sekian banyaknya pembangunan gedung-gedung
raksasa. Karena, walau bagaimana pun material pembangunan gedung-gedung di
Jakarta sebagian besar berasal dari luar Jakarta. Semakin banyak material yang
datang di tanah Jakarta, semakin berat pula beban dataran Jakarta untuk
menopang apa-apa yang ada di atasnya.
Semua contoh
keadaan bumi di atas merupakan keadaan yang disebabkan oleh perilaku manusia
dengan segala kepandaiannya dalam menaklukkan alam. Seiring dengan perkembangan
teknologi yang terus berkembang semakin pesat, potensi-potensi yang ada di bumi
pun semakin digali dengan ditunjang kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi
sangat berpengaruh pada semakin mudahnya alam ini dieksploitasi oleh manusia.
Di zaman yang pesat dengan perkembangan teknologi ini, bumi benar-benar takluk
kepada manusia. Gunung-gunung dan bukit-bukit berbatu misalnya, dapat digali
semaksimal mungkin oleh manusia, bahkan sampai rata dengan tanah pun.
Biota-biota laut bisa berkurang dalam waktu yang singkat karena diambil oleh
manusia.
Fenomena-fenomena
tersebut sebenarnya sangat dilematis. Manusia tengah dibingungkan oleh dua
pilihan, antara eksploitasi dan eksplorasi alam untuk pemenuhan kebutuhan
manusia yang kian hari kian meningkat. Banyak faktor yang menyebabkan manusia
melakukan pemanfaatan atas potensi-potensi alam yang tidak terkira. Di antara
faktor-faktor tersebut adalah kuantitas manusia yang terus meningkat dan
perubahan gaya hidup manusia.
Sebagaimana kita tahu bahwa jumlah manusia dari zaman ke zaman
terus bertambah, maka kebutuhan manusia pun ikut bertambah. Manusia mencari
cara apapun untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan, yakni dengan bergantung pada
potensi-potensi yang ada di alam. Untuk itu, manusia selalu berpikir bagaimana
cara menggali potensi-potensi alam, sehingga inilah yang menyebabkan
perkembangan teknologi untuk membantu pemanfaatan potensi-potensi alam. Karena
manusia dianugerahi pikiran oleh Tuhan, maka luasnya laut ataupun besarnya
gunung dapat diambil materi-materi yang ada di dalamnya.
Kemudian, gaya hidup manusia yang selalu berubah dari masa ke masa
juga berdampak pada penggalian potensi-potensi alam secara terus meningkat.
Misalnya, di zaman dahulu ketika teknologi belum secanggih sekarang, rumah
untuk tempat tinggal manusia cukup dengan beratap dedaunan ataupun genteng yang
sederhana. Akan tetapi di zaman sekarang, rumah-rumah bukan sekedar untuk
kebutuhan tempat tinggal. Di zaman sekarang, rumah tidak berhenti sebagai
tempat tinggal, tetapi juga dituntut untuk terlihat artistik. Akan tetapi, itu
tidak diimbangi dengan batas-batas sehingga keindahan bangunan itu tidak
merusak alam. Atap-atap rumah kini banyak yang bersifat seperti cermin, yakni
bisa memantulkan cahaya, terlebih pada gedung-gedung pencakar langit. Di satu
sisi manusia merasa dituntut oleh pemenuhan kebutuhan akan keindahan, sehingga
tampilan rumah sedap untuk dipandang. Akan tetapi di sisi lain, upaya pemenuhan
kebutuhan tersebut berdampak buruk pada alam. Pemantulan cahaya tersebut
merupakan salah satu penyebab global warming. Masih banyak contoh-contoh
lain dari pemenuhan kebutuhan atas tuntutan gaya hidup yang berdampak pada
kerusakan alam, seperti penggunaan air conditioner (AC), pencemaran
udara dari asap rokok dan kendaraan bermotor dan lain sebagainya.
Kemajuan teknologi yang terus menerus berkembang tidak seimbang
antara kemajuan teknologi untuk eksplorasi alam dengan kemajuan teknologi untuk
pelestarian alam. Sebenarnya sudah mulai dikembangkan teknologi yang konsentrasi
dalam pelestarian alam, akan tetapi itu belum bisa mengimbangi perkembangan
teknologi yang jauh lebih pesat dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Sebagai
contoh, upaya penghijauan masih sangat jauh lebih sedikit ketimbang penebangan
hutan dan pembukaan lahan untuk perumahan.
Keadaan yang demikian memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi
selama ini cenderung berat sebelah. Pemanfaatan yang sekian banyak atas potensi
alam dengan kemajuan teknologi menunjukkan semakin canggihnya teknologi dari masa
ke masa. Hanya saja, teknologi canggih itu terlalu condong pada pemanfaatan
Sumber Daya Alam (SDA). Padahal, upaya menjaga kelestarian alam juga erupakan
sisi lain yang harus diperhatikan. Sisi lain inilah yang sebenarnya untuk
kesejahteraan jangka panjang. Canggihnya teknologi selama ini sebagian besar
hanya sebatas pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sesaat. Sedangkan, penggunaan
teknologi untuk pertimbangan dan penjagaan kelestarian alam jangka panjang ke
depan masih jauh di bawah tingginya upaya pemenuhan kebutuhan.
Kelestarian alam
hanya bisa dipertahankan jika manusia bisa menyikapi pemanfaatan alam,
pemenuhan kebutuhan, pemenuhan ambisi dan perkembangan teknologi dengan
berimbang. Di samping untuk memenuhi kebutuhan, pesatnya perkembangan teknologi
seharusnya diimbangi dengan pertimbangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi sebagai menjaga keseimbangan dan pelastarian alam. Sebagaimana kita
ketahui, setiap adanya pembangunan suatu, tak lepas dari perusakan hal lain
sebagai modal untuk pembangunan ataupun dampak dari pembangunan. Perlu
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khusus sebagai respon terhadap
perusakan alam untuk pembangunan, mengingat perkembangan teknologi selama ini
dominan kurang mempertimbangkan kerusakan yang ditimbulkan dari suatu
pembangunan. Manusia juga banyak yang mengatasnamakan eksplorasi padahal
eksploitasi, maka ambisi manusia yang seperti ini harus diminimalisir untuk
kepentingan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar