Rabu, 15 November 2017

Kemajuan Teknologi Mengancam Keseimbangan Alam



Oleh: Eka Tresna Setiawan*

            Dari masa ke masa, keadaan bumi kian memburuk. Misalnya, ketersediaan sumber daya alam yang kian hari kian menurun. Begitu pula dengan perubahan iklim yang kini kian menyata, yakni global warming. Gunung-gunung es di kutub dari tahun ke tahun mengalami pencairan terus-menerus, karena efek rumah kaca, yakni cahaya matahari yang terpantul kembali ke angkasa oleh atap-atap bangunan yang bersifat seperti cermin, sehingga lapisan ozon membocor. Contoh lainnya adalah keadaan dataran Jakarta kian mengkhawatirkan, karena dataran tanah Jakarta kini semakin menurun posisinya, sehingga kota ini terancam tenggelam. Turunnya dataran tanah Jakarta merupakan dampak dari sekian banyaknya pembangunan gedung-gedung raksasa. Karena, walau bagaimana pun material pembangunan gedung-gedung di Jakarta sebagian besar berasal dari luar Jakarta. Semakin banyak material yang datang di tanah Jakarta, semakin berat pula beban dataran Jakarta untuk menopang apa-apa yang ada di atasnya.
            Semua contoh keadaan bumi di atas merupakan keadaan yang disebabkan oleh perilaku manusia dengan segala kepandaiannya dalam menaklukkan alam. Seiring dengan perkembangan teknologi yang terus berkembang semakin pesat, potensi-potensi yang ada di bumi pun semakin digali dengan ditunjang kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh pada semakin mudahnya alam ini dieksploitasi oleh manusia. Di zaman yang pesat dengan perkembangan teknologi ini, bumi benar-benar takluk kepada manusia. Gunung-gunung dan bukit-bukit berbatu misalnya, dapat digali semaksimal mungkin oleh manusia, bahkan sampai rata dengan tanah pun. Biota-biota laut bisa berkurang dalam waktu yang singkat karena diambil oleh manusia.
            Fenomena-fenomena tersebut sebenarnya sangat dilematis. Manusia tengah dibingungkan oleh dua pilihan, antara eksploitasi dan eksplorasi alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang kian hari kian meningkat. Banyak faktor yang menyebabkan manusia melakukan pemanfaatan atas potensi-potensi alam yang tidak terkira. Di antara faktor-faktor tersebut adalah kuantitas manusia yang terus meningkat dan perubahan gaya hidup manusia.
Sebagaimana kita tahu bahwa jumlah manusia dari zaman ke zaman terus bertambah, maka kebutuhan manusia pun ikut bertambah. Manusia mencari cara apapun untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan, yakni dengan bergantung pada potensi-potensi yang ada di alam. Untuk itu, manusia selalu berpikir bagaimana cara menggali potensi-potensi alam, sehingga inilah yang menyebabkan perkembangan teknologi untuk membantu pemanfaatan potensi-potensi alam. Karena manusia dianugerahi pikiran oleh Tuhan, maka luasnya laut ataupun besarnya gunung dapat diambil materi-materi yang ada di dalamnya.
Kemudian, gaya hidup manusia yang selalu berubah dari masa ke masa juga berdampak pada penggalian potensi-potensi alam secara terus meningkat. Misalnya, di zaman dahulu ketika teknologi belum secanggih sekarang, rumah untuk tempat tinggal manusia cukup dengan beratap dedaunan ataupun genteng yang sederhana. Akan tetapi di zaman sekarang, rumah-rumah bukan sekedar untuk kebutuhan tempat tinggal. Di zaman sekarang, rumah tidak berhenti sebagai tempat tinggal, tetapi juga dituntut untuk terlihat artistik. Akan tetapi, itu tidak diimbangi dengan batas-batas sehingga keindahan bangunan itu tidak merusak alam. Atap-atap rumah kini banyak yang bersifat seperti cermin, yakni bisa memantulkan cahaya, terlebih pada gedung-gedung pencakar langit. Di satu sisi manusia merasa dituntut oleh pemenuhan kebutuhan akan keindahan, sehingga tampilan rumah sedap untuk dipandang. Akan tetapi di sisi lain, upaya pemenuhan kebutuhan tersebut berdampak buruk pada alam. Pemantulan cahaya tersebut merupakan salah satu penyebab global warming. Masih banyak contoh-contoh lain dari pemenuhan kebutuhan atas tuntutan gaya hidup yang berdampak pada kerusakan alam, seperti penggunaan air conditioner (AC), pencemaran udara dari asap rokok dan kendaraan bermotor dan lain sebagainya.
Kemajuan teknologi yang terus menerus berkembang tidak seimbang antara kemajuan teknologi untuk eksplorasi alam dengan kemajuan teknologi untuk pelestarian alam. Sebenarnya sudah mulai dikembangkan teknologi yang konsentrasi dalam pelestarian alam, akan tetapi itu belum bisa mengimbangi perkembangan teknologi yang jauh lebih pesat dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Sebagai contoh, upaya penghijauan masih sangat jauh lebih sedikit ketimbang penebangan hutan dan pembukaan lahan untuk perumahan.
Keadaan yang demikian memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi selama ini cenderung berat sebelah. Pemanfaatan yang sekian banyak atas potensi alam dengan kemajuan teknologi menunjukkan semakin canggihnya teknologi dari masa ke masa. Hanya saja, teknologi canggih itu terlalu condong pada pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA). Padahal, upaya menjaga kelestarian alam juga erupakan sisi lain yang harus diperhatikan. Sisi lain inilah yang sebenarnya untuk kesejahteraan jangka panjang. Canggihnya teknologi selama ini sebagian besar hanya sebatas pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sesaat. Sedangkan, penggunaan teknologi untuk pertimbangan dan penjagaan kelestarian alam jangka panjang ke depan masih jauh di bawah tingginya upaya pemenuhan kebutuhan.
            Kelestarian alam hanya bisa dipertahankan jika manusia bisa menyikapi pemanfaatan alam, pemenuhan kebutuhan, pemenuhan ambisi dan perkembangan teknologi dengan berimbang. Di samping untuk memenuhi kebutuhan, pesatnya perkembangan teknologi seharusnya diimbangi dengan pertimbangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai menjaga keseimbangan dan pelastarian alam. Sebagaimana kita ketahui, setiap adanya pembangunan suatu, tak lepas dari perusakan hal lain sebagai modal untuk pembangunan ataupun dampak dari pembangunan. Perlu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khusus sebagai respon terhadap perusakan alam untuk pembangunan, mengingat perkembangan teknologi selama ini dominan kurang mempertimbangkan kerusakan yang ditimbulkan dari suatu pembangunan. Manusia juga banyak yang mengatasnamakan eksplorasi padahal eksploitasi, maka ambisi manusia yang seperti ini harus diminimalisir untuk kepentingan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar